September 20, 2013

TITRASI ASAM-BASA (VOLUMETRI)

Titrasi yaitu metode yang baik untuk menentukan konsentrasi larutan yang telah diketahui standarnya, maka dapat ditentukan konsentrasi larutan yang dititrasikan.
Analisa titrasi asam basa atau volumetri adalah analisa kuantitatif dimana kadar komponen dari zat uji ditetapkan berdasarkan volume pereaksi (konsentrasi diketahui) yang ditambahkan kedalam larutan zat uji hingga komponen yang akan di tetapkan bereaksi secara kuantitatif dengan pereaksi tersebut. Proses ini sering disebut dengan “TITRASI” dan analisis volumetri dikenal juga dengan sebutan “ANALISIS TITRIMETRI”.

Suatu pereaksi dapat di gunakan sebagasi dasar analisis titrimetri apabila memenuhi syarat – syaratr berikut reaksi harus berlangsung sesuai persamaan reaksi kimia tertentu, harus tidak ada reaksi sampingan, reaksi harus berlangsung sampai benar – benar lengkap pada titik ekivalen, suatu indikator harus ada menunjukan titik ekivalen, reaksi yang berlangsung cepat sehingga titrasi dapat di lakukan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.
Pereaksi yang di gunakan di namakan titran dan larutannya di namakan larutan titer atau larutan beku. Kosentrasi larutan ini dapat dihitung berdasarkan berat beku di timbang secara seksama atau dengan penetapan yang di kenal dengan standarisasi atau pembakuan.
Larutan standar baku dibagi menjadi standar primer dan standar skunder.
Kedua jenis larutan standar (beku) ini dapat digunakan untuk menganalisis suatu larutan senyawa. Beberapa jenis reaksi dapat digunakan untuk titrasi yaitu pengendapan reaksi oksidasi-reduksi, reaksi asam-basa dan reaksi pembentukan kompleks.
Metode titrimetri dapat diklasifikasikan menurut beberapa metode bergantung dari aspek yang ditonjolkan dari titrasi tersebut, yaitu berdasarkan macam reaksinya;
titrasi asam basa, titrasi redoks, titrasi pengendapan, titrasi kompleksometri. Berdasarkan titran yang dipakai asidimetri, alkalimetri, idiometri, nitrimetri, dan permanganometri. Berdasarkan konsentrasi dari komponen zat uji; titrasi makro, titrasi semi mikro, dan titrasi mikro. Berdasarkan cara penetapan titik akhir titrasi; titrasi visual, titrasi elektrometri, titrasi fotometri.
selain hal diatas , berdasarkan pelarut yang digunakan dikenal titrasi bebas air (titrasi non aqua). Sedangkan teknis pelaksanaanya dikenal pola titrasi balance.
Pada kenyataannya, jika suatu titer dari zat yang kemurniannya tidak pasti, maka konsentrasi larutannya yang didapat belum dapat dikatakan pasti. Oleh karena itu, untuk menyatakan konsentrasi dengan sampai empat angka berarti, maka larutan tersebuit dapat dibakukan.
Pembakuan selanjutnya diulang secara berkala selama penyimpanan. Pembakuan ini menggunakan alat baku yang disebut sebagai baku primer. Selain hal itu juga, pembakuan dapat dilakukan dengan cara menggunakan larutan yang sudah dibakukan.
Yang dimaksud dengan baku primer adalah larutan yang konsentrasinya dapat diketahui dengan cara menimbang zat secara saksama. Baku primer harus memenuhi syarat-syarat berikut mudah di dapat, mudah ditangani, tidak higroskopis (dipengaruhi udara), mempunyai bobot ekuivalen yang tinggi, murni atau mudah dimurnikan dan kemurniannya diketahui, reaksi dengan zat yang dibakukan harus stoikiometri sehingga dapat dicapai dasar perhitungan.
Perubahan larutan pada titik ekuivalen tidak jelas pada kebanyakan titrasi asam basa. Untuk mengatasi hal tersebut, maka digunakan indikator, yaitu suatu senyawa organik asam atau basa lemah yang mempunyai warna molekul (warna asam) berbeda dengan warna ion (warna basa), dimana indikator ini memperlihatkan perubahan warna pada pH tertentu. Secara umum, untuk titrasi asam basa, indikator yang digunakan adalah indikator fenolftalaen, yang mempunyai trayek 8,3-10,5 dimana senyawa ini tidak bewarna pada larutan asam dan bewarna merah jambu pada larutan basa.
Pada percobaan ini akan dilakukan titrasi asam basa. Titrasi asam basa adalah penetapan kadar suatu zat berdasarkan reaksi asam basa bila sebagai titran digunakan larutan baku asam, maka penetapan tersebut dinamakan adisimetri. Dan sebaliknya, jika larutan basa sebagai titran disebut alkalimetri.
Secara ringkas, reaksi asam basa atau netralisasi disebabkan oleh proton (H+) dari asam yang bereaksi dengan OH- dari basa. Reaksi yang terjadi adalah:
H+(aq)   +   OH-(aq)   à   H2O(aq)
Beberapa teori asam basa; teori Arhenius “asam basa adalah suatu zat yang bila dilarutkan ke dalam air berdisosiasi menghasilkan ion hydrogen sebagai ion positif, dan ion negatifnya adalah ion hidroksi”. Teori bronsted lowry menyatakan asam adalah suatu zat yang cenderung melepas proton, sedangkan basa adalah zat yang menerima proton. Teori Lewis “asam merupakan akseptor electron sedangkan basa merupakan donor electron”. (Keenan. 1979.Kimia Untuk Universitas. Halaman: 414)
Campuran asam dengan basa, reaksi asam dengan basa di sebut reaksi penetralan. Namun demikian campuran ekivalen asam dengan basa kuat saja. Sedangkan campuran asam basa yang melibatkan asam atau basa lemah. Reaksi antara asam kuat dengan basa kuat dapat di tuliskan sebagai reaksi ion H+ dengan ion OH-. Dalam hal ini, ion H+ mewakili asam, sedangkan ion OH- mewakili basa.
pH larutan pada saat asam dan basa tepat habis bereaksi adalah 7 netral. Untuk menunjukan titik ekivalen dapat digunakan indikator metal merah bromtimol biru atau fenolftalaen. Indikator-indikator itu mengalami perubahan warna disekitar titik ekivalen. Oleh karena itu perubahan warna indikator fenelftalaen lebih tajam (lebih mudah diamati), maka indikator fenolftalaen lebih sering digunakan.
(Mitchael Purba. 2006. Kimia. Halaman: 84)
Prinsip titrasi asam basa, titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer maupun titran. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekivalen (artinya secara stoikiometri titran dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut titik ekuivalen.
Dalam metode titrasi asam basa larutan uji, atau larutan standar ditambahkan secara eksternal, biasanya dari dalam buret bentuk larutan standar ini ditentukan sampai telah dicapai kesetaraan secara kimia dengan larutan sekunder yang telah diuji. Untuk mengetahui kapan penambahan larutan standar itu harus dihentikan, digunakan suatu zat yang berupa indikator. Analisa perhitungan molaritas larutan dilakukan pada saat sudah terjadi kesetaraan dan proses penetesan larutan penguji dihentikan.

Tidak semua pereaksi dapat digunakan sebagai titran, untuk itu pereaksi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut berlangsung sempurna, tunggal dan menurut persamaan yang jelas ( dasar teoritis), cepat dan irreversible, ada petunjuk akhir titrasi (indikator), larutan baku direaksikan dengan alat harus mudah didapat dan sederhana menggunakannya, juga harus stabil sehingga konsentrasinya tidak mudah berubah bila disimpan. (Ady Mara. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Halaman: 21)

0 komentar:

.:: Search

Memuat...

.:: Jurnal

Science Direct

.:: LibGen

http://libgen.org/scimag/

.:: Facebook

.:: Koleksi e-Book

.:: Followers

.:: Traffic

Diberdayakan oleh Blogger.